Di dunia internasional, istilah community forestry secara sederhana berarti pengelolaan sekumpulan pepohonan oleh sekelompok orang yang memiliki tujuan yang sama. Pada umumnya, community forestry digunakan dalam dunia kehutanan dengan pengertian yang sama dengan social forestry (perhutanan sosial), sementara di sisi lain dibedakan dari istilah farm forestry yang merujuk pada pengelolaan pohon-pohonan oleh pengelola lahan individual.

Komuniti forestri dapat mencakup praktek-praktek pengelolaan hutan yang telah berumur ratusan tahun sampai ke skema-skema inovatif yang relatif baru berkembang; pengelolaan hutan tanaman maupun hutan alam (termasuk lahan belukar), dan semua macam metode pengorganisasian kelompok masyarakat pengelola hutan.

Sonja Vermeulen (2001) memberikan gambaran pengertian community forestry dari persepsi para pihak yaitu

Definisi pemerintah

Community forestry adalah sistem kehutanan yang didesain dan diterapkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial, rumahtangga dan lingkungan lokal dan untuk mengembangkan ekonomi lokal. (White Paper on Sustainable Forest Development, Government of South Africa).

Definisi peneliti

Community forestry berbasis pada penguasaan lokal atas, dan pemanfaatan keuntungan dari, sumberdaya hutan lokal. Keuntungankeuntungan itu bukan semata bersifat moneter, dan bukan pula semata dari produksi kayu, namun dapat bervariasi menurut banyaknya nilai manfaat yang bisa didapat dari ekosistem hutan, termasuk nilai-nilai kultural, spiritual, sosial, kesehatan, ekologis, rekreasional, estetika dan ekonomi. (Curran and M’Gonigle 1997, dalam the Forests and Communities website, http://www.forestsandcommunities.org /ecosystem.html).

Definisi lokal

Pengelolaan masyarakat atas hutan telah mengubah konsep kehidupan masyarakat. Warga desa tidak lagi berpikir soal manfaat perorangan, namun lebih pada manfaat kolektif. Kami gunakan dana yang diperoleh dari pengelolaan hutan untuk pembangunan di masyarakat, seperti memperbaiki jalan-jalan dan penyediaan air minum. (Tik Karki, Jaykot Forest Users’ Group, Nepal, dalam Poffenberger 2000).

Sumber:

Sonja Vermeulen. 2001. Memahami KF: lima hal pokok yang perlu dipertimbangkan. Embarking on komuniti forestri: five points to keep in mind. IIED.